R'LUVS

My LiVe My aDvEnTuRe

Minggu, 24 Oktober 2010

CinTa KePaDa ALLAH

Sewaktu masih kecil Husain (cucu Rasulullah Saw.) bertaya kepada ayahnya, Sayidina Ali ra: "Apakah engkau mencintai Allah?" Ali ra menjawab, "Ya". Lalu Husain bertanya lagi: "Apakah engkau mencintai kakek dari Ibu?" Ali ra kembali menjawab, "Ya". Husain bertanya lagi: "Apakah engkau mencintai Ibuku?" Lagi-lagi Ali menjawab,"Ya". Husain kecil kembali bertanya: "Apakah engkau mencintaiku?" Ali menjawab, "Ya". Terakhir Si Husain yang masih polos itu bertanya, "Ayahku, bagaimana engkau menyatukan begitu banyak cinta di hatimu?" Kemudian Sayidina Ali menjelaskan: "Anakku, pertanyaanmu hebat! Cintaku pada kekek dari ibumu (Nabi Saw.), ibumu (Fatimah ra) dan kepada kamu sendiri adalah kerena cinta kepada Allah". Karena sesungguhnya semua cinta itu adalah cabang-cabang cinta kepada Allah Swt. Setelah mendengar jawaban dari ayahnya itu Husain jadi tersenyum mengerti.
Seorang sufi wanita terkenal dari Bahsrah, Rabi'ah Al- Adawiyah (w. 165H) ketika berziarah ke makam Rasul Saw. pernah mengatakan: "Maafkan aku ya Rasul, bukan aku tidak mencintaimu tapi hatiku telah tertutup untuk cinta yang lain, karena telah penuh cintaku pada Allah Swt". Tentang cinta itu sendiri Rabiah mengajarkan bahwa cinta itu harus menutup dari segala hal kecuali yang dicintainya. Bukan berarti Rabiah tidak cinta kepada Rasul, tapi kata-kata yang bermakna simbolis ini mengandung arti bahwa cinta kepada Allah adalah bentuk integrasi dari semua bentuk cinta termasuk cinta kepada Rasul. Jadi mencintai Rasulullah Saw. sudah dihitung dalam mencintai Allah Swt. Seorang mukmin pecinta Allah pastilah mencintai apa apa yang di cintai-Nya pula. Rasulullah pernah berdoa: "Ya Allah karuniakan kepadaku kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang yang mencintai-Mu dan kecintaan apa saja yang mendekatkan diriku pada kecintaan-Mu. Jadikanlah dzat-Mu lebih aku cintai dari pada air yang dingin."
Selanjutnya Rabiah -yang sangat terpandang sebagai wali Allah karena kesalehannya- mengembangkan konsep cinta yang menurut hematnya harus mengikuti aspek kerelaan (ridha), kerinduan (syauq), dan keakraban (uns). Selain itu ia mengajarkan bahwa cinta kepada Tuhan harus mengesampingkan dari cinta-cinta yang lain dan harus bersih dari kepentingan pribadi (dis-interested). Cinta kepada Allah tidak boleh mengharapkan pahala atau untuk menghindarkan siksa, tetapi semata-mata berusaha melaksanakan kehendak Allah, dan melakukan apa yang bisa menyenangkan-Nya, sehingga Ia kita agungkan. Hanya kepada hamba yang mencintai-Nya dengan cara seperti itu, Allah akan menyibakkan diri-Nya dengan segala keindahannya yang sempurna. Rumusan cinta Rabiah dapat di simak dalam doa mistiknya: "Oh Tuhan, jika aku menyembahmu karena takut akan api neraka, maka bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembahmu karena berharap surga, maka campakanlah aku dari sana; Tapi jika aku menyembahmu karena Engkau semata, maka janganlah engkau sembunyikan keindahan-Mu yang abadi."
Dalam kitab Al-Mahabbah, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa cinta kepada Allah adalah tujuan puncak dari seluruh maqam spiritual dan ia menduduki derajad/level yang tinggi. "(Allah) mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya." (QS. 5: 54). Dalam tasawuf, setelah di raihnya maqam mahabbah ini tidak ada lagi maqam yang lain kecuali buah dari mahabbah itu sendiri. Pengantar-pengantar spiritual seperti sabar, taubat, zuhud, dan lain lain nantinya akan berujung pada mahabatullah (cinta kepada Allah).
Menurut Sang Hujjatul Islam ini kata mahabbah berasal dari kata hubb yang sebenarnya mempunyai asal kata habb yang mengandung arti biji atau inti. Sebagian sufi mengatakan bahwa hubb adalah awal sekaligus akhir dari sebuah perjalanan keberagamaan kita. Kadang kadang kita berbeda dalam menjalankan syariat karena mazhab/aliran. Cinta kepada Allah -yang merupakan inti ajaran tasawuf- adalah kekuatan yang bisa menyatukan perbedaan-perbedaan itu.
Bayazid Bustami sering mengatakan: "Cinta adalah melepaskan apa yang dimiliki seseorang kepada Kekasih (Allah) meskipun ia besar; dan menganggap besar apa yang di peroleh kekasih, meskipun itu sedikit." Kata-kata arif dari sufi pencetus doktrin fana' ini dapat kita artikan bahwa ciri-ciri seorang yang mencintai Allah pertama adalah rela berkorban sebesar apapun demi kekasih. Cinta memang identik dengan pengorbanan, bahkan dengan mengorbankan jiwa dan raga sekalipun. Hal ini sudah di buktikan oleh Nabi Muhammad Saw., waktu ditawari kedudukan mulia oleh pemuka Quraisy asalkan mau berhenti berdakwah. Dengan kobaran cintanya yang menyala-nyala pada Allah Swt., Rasulullah mengatakan kepada pamannya: "Wahai pamanku, demi Allah seandainya matahari mereka letakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku supaya aku berhenti meninggalkan tugasku ini, maka aku tidak mungkin meninggalkannya sampai agama Allah menang atau aku yang binasa". Ciri kedua dari pecinta adalah selalu bersyukur dan menerima terhadap apa- apa yang di berikan Allah. Bahkan ia akan selalu ridha terhadap Allah walaupun cobaan berat menimpanya.
Jiwa para pecinta rindu untuk berjumpa dan memandang wajah Allah yang Maha Agung.. "Orang orang yang yakin bahwa mereka akan bertemu dengan Tuhan mereka "'(QS. 2: 46). Tentang kerinduan para pecinta terhadap Allah Swt., sufi besar Jalaluddin Rumi menggambarkan dalam matsnawi sebagai kerinduan manusia pada pengalaman mistikal primordial di hari "alastu" sebagai kerinduan seruling untuk bersatu kembali pada rumpun bambu yang merupakan asal muasal ia tercipta. Hidup di dunia merupakan perpisahan yang sangat pilu bagi para pecinta, mereka rindu sekali kepada Rabbnya seperti seseorang yang merindukan kampung halamannya sendiri, yang merupakan asal-usulnya. Jiwa para pecinta selalu dipenuhi keinginan untuk melihat Allah Swt. dan itu merupakan cita-cita hidupnya. Menurut Al-Ghazali makhluk yang paling bahagia di akhirat adalah yang paling kuat kecintaannya kepada Allah Swt. Menurutnya, ar-ru'yah (melihat Allah).merupakan puncak kebaikan dan kesenangan. Bahkan kenikmatan surga tidak ada artinya dengan kenikmatan kenikmatan perjumpaan dengan Allah Swt. Meminta surga tanpa mengharap perjumpaan dengan-Nya merupakan tindakan "bodoh" dalam terminologi sufi dan mukmin pecinta.
"Shalat adalah mi'rajnya orang beriman" begitulah bunyi sabda Nabi Saw. untuk menisbatkan kualitas shalat bagi para pecinta. Shalat merupakan puncak pengalaman ruhani di mana ruh para pecinta akan naik ke sidratul muntaha, tempat tertinggi di mana Rasulullah di undang langsung untuk bertemu dengan-Nya. Seorang Aqwiya (orang-orang yang kuat kecintaannya pada Tuhan) akan menjalankan shalat sebagai media untuk melepaskan rindu mereka kepada Rabbnya, sehingga mereka senang sekali menjalankannya dan menanti-nanti saat shalat untuk waktu berikutnya, bukannya sebagai tugas atau kewajiban yang sifatnya memaksa. Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata: "Ada hamba yang beribadah kepada Allah karena ingin mendapatkan imbalan, itu ibadahnya kaum pedagang. Ada hamba yang beribadah karena takut siksaan, itu ibadahnya budak, dan ada sekelompok hamba yang beribadah karena cinta kepada Allah Swt, itulah ibadahnya orang mukmin". Seorang pecinta akan berhias wangi dan rapi dalam shalatnya, melebihi saat pertemuan dengan orang yang paling ia sukai sekalipun. Bahkan mereka kerap kali menangis dalam shalatnya. Kucuran air mata para pecinta itu merupakan bentuk ungkapan kerinduan dan kebahagiaan saat berjumpa dengan-Nya dalam sholatnya.
Mencintai Allah Swt. bisa di pelajari lewat tanda-tanda-Nya yang tersebar di seluruh ufuk alam semesta. Pada saat yang sama, pemahaman dan kecintaan kepada Allah ini kita manifestasikan ke bentuk yang lebih nyata dengan amal saleh dan akhlakul karimah yang berorientasi dalam segenap aspek kehidupan.
Ada sebuah cerita, seorang sufi besar bernama Abu Bein Azim terbangun di tengah malam. Kamarnya bermandikan cahaya. Di tengah tengah cahaya itu ia melihat sesosok makhluk, seorang Malaikat yang sedang memegang sebuah buku. Abu Bein bertanya: "Apa yang sedang anda kerjakan?" Aku sedang mencatat daftar pecinta Tuhan. Abu Bein ingin sekali namanya tercantum. Dengan cemas ia melongok daftar itu, tapi kemudian ia gigit jari, namanya tidak tercantum di situ. Ia pun bergumam: "Mungkin aku terlalu kotor untuk menjadi pecinta Tuhan, tapi sejak malam ini aku ingin menjadi pecinta manusia". Esok harinya ia terbangun lagi di tengah malam. Kamarnya terang benderang, malaikat yang bercahaya itu hadir lagi. Abu Bein terkejut karena namanya tercantum pada papan atas daftar pecinta Tuhan. Ia pun protes: "Aku bukan pecinta Tuhan, aku hanyalah pecinta manusia". Malaikat itu berkata: "Baru saja Tuhan berkata kepadaku bahwa engkau tidak akan pernah bisa mencintai Tuhan sebelum kamu mencintai sesama manusia".
Mencintai Allah bukan sebatas ibadah vertikal saja (mahdhah), tapi lebih dari itu ia meliputi segala hal termasuk muamalah. Keseimbangan antara hablun minallah dan hablun minannas ini pernah di tekankan oleh Nabi Saw. dalam sebuah hadits qudsi: "Aku tidak menjadikan Ibrahim sebagai kekasih (khalil), melainkan karena ia memberi makan fakir miskin dan shalat ketika orang-orang terlelap tidur". Jadi cinta kepada Allah pun bisa diterjemahkan ke dalam cinta kemanusiaan yang lebih konkrit, misalnya bersikap dermawan dan memberi makan fakir miskin. Sikap dermawan inilah yang dalam sejarah telah di contohkan oleh Abu bakar, Abdurahman bin Auf, dan sebagainya. Bahkan karena cintanya yang besar kepada Allah mereka memberikan sebagian besar hartanya dan hanya menyisakan sedikit saja untuk dirinya. Mencintai Allah berarti menyayangi anak-anak yatim, membantu saudara saudara kita yang di timpa bencana, serta memberi sumbangan kepada kaum dhuafa dan orang lemah yang lain. Dalam hal ini Rasulullah Saw. pernah bersabda ketika ditanya sahabatnya tentang kekasih Allah (waliyullah). Jawab beliau: "Mereka adalah kaum yang saling mencintai karena Allah, dengan ruh Allah, bukan atas dasar pertalian kerluarga antara sesama mereka dan tidak pula karena harta yang mereka saling beri." Menurut Nurcholish Madjid, yang di tekankan dalam sabda Nabi tersebut adalah perasaan cinta kasih antar sesama atas dasar ketulusan, semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

MenGgaPaI CiNTa Allah

Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah, Yang Maha Agung dan Mulia menjumpaiku - yakni dalam tidurku - kemudian berfirman kepadaku, "Wahai Muhammad, katakanlah : "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mencintai-Mu, mencintai siapa saja yang mencintai-Mu, serta mencintai perbuatan yang mengantarkan aku untuk mencintai-Mu." Dalam amal ubudiyah, cinta (mahbbah) menempati derajat yang paling tinggi. Mencintai Allah dan rasul-Nya berarti melaksanakan seluruh amanat dan ajaran Al-Qur'an dan Sunnah Rasul, disertai luapan kalbu yang dipenuhi rasa cinta.
Pada mulanya, perjalanan cinta seorang hamba menapaki derajat mencintai Allah. Namun pada akhir perjalanan ruhaninya, sang hamba mendapatkan derajat wahana yang dicintaiNya. Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah, Yang Maha Agung dan Mulia menjumpaiku - yakni dalam tidurku - kemudian berfirman kepadaku, "Wahai Muhammad, katakanlah : /Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mencintai-Mu, mencintai siapa saja yang mencintai-Mu, serta mencintai perbuatan yang mengantarkan aku untuk mencintai-Mu."/
Dalam buku "Mahabbatullah" (mencintai Allah), Imum Ibnu Qayyim menuturkan tahapan-tahapan menuju wahana cinta Allah. Bahwasanya cinta senantiasa berkaitan dcngan amal. Dan amal sangat tergantung pada keikhlasan kalbu, disanalah cinta Allah berlabuh. Itu karena Cinta Allah merupakan refleksi dari disiplin keimanan dan kecintaan yang terpuji, bukan kecintaan yagn tercela yang menjerumuskan kepada cinta selain Allah.
Tahapan-tahapan menuju wahana cinta kepada Allah adalah sebagai berikut:
1. Membaca al-Qur'an dengan merenung dan memahami kandungan maknanya sesuai dengan maksudnya yang benar. Itu tidaklain adalah renungan seorang hamba Allah yang hafal danmampu menjelaskan al-Qur'an agar dipahami maksudnya sesuai dengan kehendak Allah swt. Al-Qur'an merupakan kemuliaan bagi manusia yang tidak bisa ditandingi dengan kemuliaan apapun. Ibnu Sholah mengatakan "Membaca Al-Qur'an merupakan kemuliaan, dengan kemuliaan itu Allah ingin memuliakan manusia di atas mahluk lainnya. Bahkan malaikat pun tidak pernah diberi kemuliaan semacam itu, malah mereka selalu berusaha mendengarkannya dari manusia".
2. Taqarub kepada Allah swt, melalui ibadah-ibadah sunnah setalah melakukan ibadah-ibadah fardlu. Orang yang menunaikan ibadah-ibadah fardlu dengan sempurna mereka itu adalah yang mencintai Allah. Sementara orang yang menunaikannya kemudian menambahnya dengan ibadah-ibadah sunnah, mereka itu adalah orang yang dicintai Allah. Ibadah-ibadah sunnah untuk mendekatkan diri kepada Allah, diantaranya adalah: shalat-shalat sunnah, puasa-puasa sunnah,sedekah sunnah dan amalan-amalan sunnah dalam Haji dan Umrah.
3. Melanggengkan dzikir kepada Allah dalam segala tingkah laku, melaui lisan, kalbu, amal dan perilaku. Kadsar kecintaan seseorang terhadap Allah tergantung kepada kadar dzikirnya kepadaNya. Dzikir kepada Allah merupakan syiar bagi mereka yang mencintai Allah dan orang yang dicintai Allah. Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: "Sesungguhnya Allah aza wajalla berfirman :"Aku bersama hambaKu,s elama ia mengingatKu dan kedua bibirnya bergerak (untuk berdzikir) kepadaKu".
4. Cinta kepada Allah melebihi cinta kepada diri sendiri. Memprioritaskan cinta kepada Allah di atas cinta kepada diri sendiri, meskipun dibayang-bayangi oleh hawa nafsu yang selalu mengajak lebih mencintai diri sendiri. Artinya ia rela mencintai Allah meskipun beresiko tidak dicintai oleh mahluk. Inilah derajat para Nabi, diatas itu derajat para Rasul dan diatasnya lagi derajat para rasulul Ulul Azmi, lalu yang paling tinggi adalah derajat Rasulullah Muhammad s.a.w. sebab beliau mampu melawan kehendak dunia seisinya demi cintanya kepada Allah.
5. Kontinuitas musyahadah (menyaksikan) dan ma'rifat (mengenal) Allah s.w.t. Penglihatan kalbunya terarah kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatNya. Kesadaran dan penglihatan kalbunya berkelana di taman ma'rifatullah (pengenalan Allah yang paling tinggi). Barang siapa ma'rifat kepada asma-asma Allah, sifat-sifat dan af'al-af'al Allah dengan penyaksian dan kesadaran yang mendalam, niscaya akan dicintai Allah.
6. Menghayati kebaikan, kebesaran dan nikmat Allah lahir dan batin akan mengantarkan kepada cinta hakiki kepadaNya. Tidak ada pemberi nikmat dan kebaikan yang hakiki selain Allah. Oleh sebab itu, tidak ada satu pun kekasih yang hakiki bagi seorang hamba yang mampu melihat dengan mata batinnya, kecuali Allah s.w.t. Sudah menjadi sifat manusia, ia akan mencintai orang baik, lembut dan suka menolongnya dan bahkan tidak mustahil ia akan menjadikannya sebagai kekasih. Siapa yang memberi kita semua nikmat ini? Dengan menghayati kebaikan dan kebesaran Allah secara lahir dan batin, akan mengantarkan kepada rasa cinta yang mendalam kepadaNya.
7. Ketertundukan hati secara total di hadapan Allah, inilah yang disebut dengan khusyu'. Hati yang khusyu' tidak hanya dalam melakukan sholat tetapi dalam semua aspek kehidupan ini, akan mengantarkan kepada cinta Allah yang hakiki.
8. Menyendiri bersama Allah ketika Dia turun. Kapankan itu? Yaitu saat sepertiga terakhir malam. Di saat itulah Allah s.w.t. turun ke dunia dan di saat itulah saat yang paling berharga bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepadaNya dengan melaksanakan sholat malam agar mendapatkan cinta Allah.
9. Bergaul dengan orang-orang yang mencintai Allah, maka iapun akan mendapatkan cinta Allah s.w.t.
10. Menjauhi sebab-sebab yang menghalangi komunikai kalbu dan Al-Khaliq, Allah subhanahu wataala.

HATI YANG CINTA KEPADA ALLAH SWT

"Hati adalah tempat suci Allah,
maka janganlah engkau menempatkan (sesuatu) di tempat suci Allah,
selain Allah."  (Al-hadis).
Cinta kepada Allah merupakan puncak dalam beribadah. Dalam makna hadis dikatakan ibadah tertinggi adalah ibadah yang dilakukan penuh dengan kecintaan kepada Allah Swt. Setiap orang memiliki tingkatan-tingkatan dalam mencintai Allah Swt.
Seseorang bertanya kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib kw, tentang tingkatan para pecinta. Imam berkat, "Tingkatan terendah mereka adalah orang yang menganggap kecil ketaatannya dan menganggap besar dosanya; dia beranggapan bahwa tidak ada di dalam dua rumah yang diambil selain-Nya."  Orang tersebut kemudian pingsan. Setelah siuman, dia bertanya kembali, "Adakah derajat yang lebih tinggi dari itu?" Imam menjawab, "Ya, 70 derajat (peringkat)."
Hati yang Sehat sumber Cinta pada Allah Swt. Hati yang sehat (qobun salim) adalah hati yang selalu dibersihkan dari selain Allah. Hati ini senantiasa bertasbih, mensucikan asma-asma-Nya. Dalam hadis dikatakan, "Hati yang sehat adalah (hati) yang bertemu dengan Tuhannya dan tiada sesuatu selain-Nya di dalamnya. Setiap hati yang di dalamnya (terdapat) syirik atau keraguan (syak), ia akan terjatuh. Dan sesungguhnya mereka hendak meninggalkan kesenangan duniawi agar hati mereka menjadi kosong untuk akhirat."
Jika seseorang di antara kita ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah Ta'ala, hendaknya dia melihat kedudukan Allah di hatinya; ini akan menyingkap nisbat keselamatan dalam hati tersebut.
Jika kita mencintai seseorang, pasti di hati kita, dalam pikiran kita selalu berkecamuk dia yang kita cintai. Bahkan hati kita seolah hanya memikirkannya. Begitu juga dengan cinta kita kepada Allah Swt, terlihat dari sampai di mana Dia berada di hati kita. Dalam hadis dijelaskan, "Barangsiapa ingin mengetahui bagaimana kedudukannya di sisi Allah, lihatlah bagaimana kedudukan Allah di sisinya. Sebab, sesungguhnya setiap orang bebas untuk memilih (di antara) dua perkara; dunia dan akhirat. Karena itu, pilihlah perkara akhirat atas dunia, (sebab) itulah yang dicintai Allah. Dan orang yang memilih perkara dunia, maka tiada kedudukan bagi Allah di sisinya."
Tanda lain agar kita mengetahui apakah Allah selalu ada di hati kita adalah, apakah kita senantiasa berzikir, mengingat Allah tabaroka wa ta’ala. Zikir dapat mengantarkan cinta kepada Allah Swt.  Rasulullah saw bersabda, "Tanda cinta kepada Allah Ta'ala adalah mencintai zikir kepada Allah, dan tanda benci kepada Allah Ta'ala adalah membenci zikir kepada Allah 'Azza wa Jalla."
Kemudian, jika kita mencintai seseorang kita akan rela bersusah payah untuk kekasih kita. Kita bekerja tanpa kenal lelah mencari nafkah untuk keluarga kita karena kita mencintai mereka. Kita rela menderita untuk orang-orang yang kita cintai. Karena itu ciri lain hati yang penuh cinta kepada Allah Swt adalah hati menyukai berlelah-lelah untuk Allah. Rasulullah menjelaskan, "Hati yang mencintai Allah adalah hati yang mencintai banyak berlelah-lelah untuk Allah, dan hati yang memalingkan perhatian dari Allah adalah hati yang mencintai kesenangan. Karena itu, wahai anak Adam, janganlah engkau menyangka bahwa engkau (dapat) mengetahui kedalaman sumur tanpa bersusah-payah. Sebab, sesungguhnya kebenaran (al-Haq) adalah sangat berat sekali."
Dalam untaian munajat cinta kepada Allah Swt  terucap,
"Butalah mata yang tak (dapat) melihat-Mu, mata yang senantiasa diawasi.
Dan merugilah perdagangan seorang hamba yang tidak membuatnya cinta kepada-Mu,
sebagai bagian dari keuntungannya."
"Apa yang tertinggal setelah kehilangan-Mu, dan apa yang hilang setelah kehadiran-Mu?"
Sungguh hati yang penuh cinta kepada Tuhannya, akan senantiasa bersih dan terhindar dari kekotoran. Wallahu'allam bi ash-shawab.

Sabtu, 23 Oktober 2010

8 Cara Hindari Selingkuh Gara-gara Facebook


Lindungi pernikahan Anda dari hal-hal yang membahayakan hubungan di Facebook. Jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter menjadi penemuan yang paling berpengaruh sejak 30 tahun terakhir. Bagi banyak orang, Facebook ajang untuk mengenal banyak orang, berbagi berita hingga mencari pasangan.


Demam jejaring sosial tak terkecuali terjadi pada orang yang telah menikah. Banyak orang dengan status menikah justru tenggelam dalam komunitas Facebook dan menemukan banyak orang hingga membahayakan pernikahan dan hubungan dengan pasangan.
Ada beberapa hal yang perlu Anda dan pasangan ketahui tentang Facebook agar kehidupan Anda berdua tetap harmonis.


1.Berbagi informasi dengan pasangan
Ini adalah langkah penting untuk meyakinkan pasangan bahwa Facebook aman bagi hubungan kalian berdua.

2. 'Orang tak dikenal' adalah bahaya

Sebaiknya jangan menerima ajakan pertemanan dari orang asing atau seseorang yang tidak Anda kenal. Ajarkan juga pada anak-anak Anda bahwa permintaan dari orang asing di Facebook harus ditolak. Pertimbangkan baik-baik permintaan pertemanan dari mantan pacar atau orang yang pernah disukai.


3. Dengarkan suara hati
Jika perasaan Anda mengatakan ada sesuatu yang tidak beres, mungkin memang demikian adanya. Saat Anda merasa tidak nyaman chatting dengan teman di Facebook atau pada fitur tertentu yang mereka kirimkan, lebih baik percayai kata hati.


4. 'Pasang mata, pasang telinga'
Cara paling ampuh untuk tak melanggar batas adalah selalu berhati-hati dan waspada. Jika ada teman yang meminta Anda melakukan hal yang melewati batas, lebih aman untuk segera mengenyahkannya dari pikiran dan mendiskusikannya dengan pasangan.


5. Yang harus dilakukan saat situasi tak nyaman
Adakalanya anak-anak menemui situasi, saat mereka tidak nyaman namun tidak tahu harus berbuat apa. Lakukan empat langkah di atas. Bila Anda tetap tidak menemukan solusi, segera putuskan hubungan dari jejering dan bicarakan dengan pasangan bagaimana menanganinya.


6. Jangan bermain api
Menerima ajakan pertemanan seseorang dari masa lalu mungkin terlihat biasa saja. Sekali dua kali menerima ajakan bertemu mungkin tidak masalah. Tetapi, bila dibiarkan terus menerus ini bisa menyulut masalah dalam hubungan Anda jika Anda menyembunyikannya dari pasangan.


7. Berhenti berteman dengan 'api'
Jika tak memperhatikan peringatan jangan bermain api dengan mantan pacar, mungkin ingatan emosional akan menghanyutkan Anda lebih jauh. Apalagi jika kisah cinta masa lalu sangat membekas. Pilihan paling bijaksana adalah berhenti menjadi temannya dan fokus pada pernikahan Anda.


8. Dalam kondisi darurat, cari pertolongan
Jika Facebook telah mengancam pernikahan Anda, segeralah mencari bantuan. Berbicara dengan konselor, teman baik, orangtua atau pemuka agama bisa membantu memecahkan masalah Anda bersama pasangan.

Senin, 18 Oktober 2010

SubahanaAllah

Ku TeRpaKu,,keTiKa MeLiHaT keIndaHan paNcaRaN seNyuMaNnYa....
Ku TeRdIaM,,kEtIka LeMbUt sUaRaNya meManGgIl....
Ku TeRpesOna,,KeTiKa KaU meNyanTunInYa....

KaU deKap dIriNya,, taNpa TaU sIaPa dIa,,
KaU dEkaP dIriNya,, taNpa TaK maU taU baGaiMaNa deKiLnYa dIa,,
KaU deKaP dIrInYa,, taNpa PeduLi aRoMa tUbUhnYa...

SubahanaAllah,, iTukaH KaU..?????....